Just another WordPress.com site

PERKEMBANGAN KARIKATUR

PERKEMBANGAN KARIKATUR

Karikatur di Indonesia

Di Indonesia, sebagian karikaturis merupakan kartunis yang sekedar memasukkan karikatur sebagai elemen dalam karyanya. Banyak karikaturis yang menghasilkan karya “potret” yang berkesan asal-salan. Agak mirip, namun tidak dikerjakan dengan intuisi dan wawasan yang baik, baik dari segi artistik maupun teknik penonjolan karakter tokoh obyeknya. Jika mencapai tingkat kemiripan, meski boleh dikatakan memadai, namun ia sebenarnya belum memvisualkan potret karikatural, melainkan masih berkutat pada realisme. Karya tersebut tak ubahnya seperti potret ,dengan hidung agak dibuat mancung atau pesek, mulut agak melebar, selebihnya mirip. Kesulitan kartunis dalam menciptakan potret karikatural secara revolusioner karena adanya perasaan tidak enak atau sungkan yang berlebihan terhadap tokoh yang menjadi obyeknya. Perasaan sungkan ini bertolak dari rasa mawas diri, bahwa terutama bagi manusia Timur, sebab siapa yang secara sukarela mau digambar wajahnya dengan tidak anatomis. Bagi orang-orang tertentu bisa jadi gambar tersebut dicap menghina, merusak citra si empunya wajah, vulgar,melecehkan, dan sebagainya.

Beberapa kartunis di Indonesia yang berpotensi besar menjadi karikaturis handal, antara lain : GM Sidharta, Dwi Koendoro, Pramono, Jitet Koestana, Gesigoran atau Sudi Purwono (Non-O). Sementara itu Thomas Aquino Lionar (alm.) merupakan orang pertama kali menggarap potret karikatural sesuai dengan arti yang sebenarnya. Sebagai misal, menteri kehakiman waktu itu (Ismail Saleh) digarap sedemikian deformatif, sehingga lebih mirip monyet ketimbang wajah aslinya. Atau juga karikatur Ali Said ( Jaksa Agung ) yang menggiring asosiasi orang kepada wajah kuda. Namun kedua tokoh terhormat tersebut sama sekali tidak tersinggung atau marah. Malahan merekamemajangnya di ruang kerjanya dengan bangga.

Karikatur di Barat

Kartunis di Barat, merasa bangga dan terhormat karena mampu menggambarkan wajah dan figur sedemikian “rusaknya” apalagi dimuat surat kabar untuk dipublikasikan secara luas. Dengan potret karikatural tersebut ia bisa menjadi terkenal dan dikenal, misalnya karikaturis kelahiran Belgia, Gerard Alsteens, dengan gambarnya “Boneka Jimmy Carter”. Mantan presiden Amerika Serikat ini digambarkan sebagai boneka dengan mulut tertawa memamerkan giginya yang ekstra besar. Rambut sang mantan presiden ini direkayasa menjadi gurita dengan berbagai nama perusahaan tertulis pada tangan-tangannya, yang berjuluran kesana kemari. Salah satu tangannya memegangi bilah penggantung benang penggerak boneka. Karya tersebut kemudian menjadi terkenal, karena dipamerkan dalam kelompok seni kontemporer. Lebih lagi karya ini adalah karikatur pertama di dunia yang dipajang dalam Biennale di Venice, di Paviliun Belgia. Contoh lainnya adalah karya David Levine memvisualkan Henry Kissinger, Menteri Luar negeri AS waktu itu, secara karikatural. Dalam karikatur itu tidak tampak sedemikian innocent dan tolol. Kissinger konon malah meminta pada Levine agar karikatur tersebut diperbesar untuk dijadikan koleksinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: